CEO Bakrie Group Berdaya Bersama

Bakrie Group merupakan salah satu grup usaha besar yang penuh filosofi di Indonesia. Filosofi sang pendiri, bapak Ahmad Bakrie dapat menjadi landasan teladan bagi generasi penerus  Bakrie Group. Sosok Ahmad Bakrie kala itu mungkin bukan siapa-siapa, tapi berkat kerja keras dan ketekunannya dalam bekerja beliau berhasil menciptakan usaha yang kini menjelma menjadi salah satu korporasi terbesar dan mapan di Indonesia berjuluk PT Bakrie & Brothers Tbk yang saat ini merambah setidaknya beberapa sektor usaha yaitu sektor pertambangan melalui Bumi Resources, sektor Agribusiness melalui Bakrie Sumatera Plantation, sektor telekomunikasi melalui Bakrie Telecom, sektor oil & gas melalui Energi Mega Persada, sektor property melalui Bakrieland Development, sektor metal melalui Bakrie Metal Industries, sektor infrastruktur melalui Bakrie Indo Infrastructure.

Kemapanan Bakrie Group semakin terbukti setelah Bakrie Group mencapai usia 70 tahun, usia yang cukup untuk memberikan keteladanan. Sebagai Chief Executif Operational (CEO) korporasi dengan usia sematang itu sudah hal tentu banyak keunggulan yang dapat dimanfaatkan. Salah satu strategi untuk memanfaatkan kematangan usia Bakrie Group adalah untuk menciptakan brand awareness dengan penanganan yang berbeda antar lini usaha sesuai kondisi yang ada. Untuk lini usaha yang memiliki tingkat persaingan rendah brand awareness diciptakan agar mampu menjadi top of mind sedangkan untuk lini usaha dengan tingkat persaingan tinggi maka brand awareness dibentuk untuk meningkatkan market share kemudian setelah market share mengalami kenaikan barulah brand awareness dimaksudkan untuk menjadi top of mind secara berkala.

Sebagai upaya untuk menumbuhkan brand awareness CEO dituntut untuk bisa mempromosikan brand itu sendiri . Marketing quality menjadi sangat penting disini dan untuk mencapai marketing quality harus diadakan pula program marketing yang jitu. CEO & divisi sales and marketing perusahaan harus bersama-sama menjadikan perusahaan sebagai organisasi belajar untuk kemudian bersinergi bersama dalam menyusun program marketing E-FOURth (EASY marketing to EFFECT, EDUCATE and ENTERTAINING).

Program marketing E-FOURth (EASY marketing to EFFECT, EDUCATE and ENTERTAINING) adalah program marketing yang bertujuan tidak hanya untuk promote brand tapi juga bertujuan sosial untuk mengedukasi & menghibur. Dengan program ini diharapkan mengurangi kejenuhan masyarakat dalam permainan marketing yang semakin terasa diberbagai bidang kehidupan karena program marketing  E-FOURth tidak hanya membuai masyarakat dengan hal yang persuasif tetapi juga mendidik dan menghibur namun disisi lain juga mudah bagi perusahaan.

Berkaca dari usia 70 tahun, Bakrie Group tentu tak luput dari kekurangan dan kelemahan tersendiri. Ibarat manusia semakin tua harus semakin hati-hati menjaga pola hidup. Demikian pula dengan Bakrie Group, kelemahan di usia 70 tahun yang paling mendasar adalah mengenai kesehatan internal korporasi. Kesehatan internal seperti kesehatan sistem management group Bakrie berupa kesehatan sistem production, kesehatan sistem quality control, kesehatan sistem technology development, kesehatan sistem human resource, kesehatan sistem sales and marketing dan kesehatan sistem finance. CEO yang membawahi sistem tersebut harus mampu menjaga kesehatan sistem dalam perusahaannya. Ibaratnya harus menjadi ibu saat sistem tersebut merajuk (menjadi pembujuk jika sistem macet/tersendat), harus menjadi dokter kala sistem itu sakit (menjadi problem solved jika sistem tidak berjalan/rusak) dan harus menjadi jaksa saat sistem dalam prodeo (menjadi penentu keputusan dalam kondisi terburuk). Selain itu juga harus menjadi penemu & pencetus ide-ide yang dapat menaikkan taraf kualitas sistem perusahaan.

Mengingat sistem-sistem tersebut merupakan sistem yang usang sejalan dengan waktu, artinya sistem tersebut harus menyesuaikan dengan berjalannya waktu, perkembangan zaman dan teknologi. Sentuhan teknologi & human harus menjadi prioritas. Teknologi saat ini adalah sumber daya yang paling mampu bekerja dengan baik sesuai sistem sedangkan human adalah otak segala sistem dan keduanya itu bersifat active & develop sehingga human & teknologi tersebut harus selalu update. Jadi diseluruh sistem perusahaan diatas harus dilakukan update teknologi & human sesuai kebutuhan untuk mencapai efesiensi kerja sehingga dapat menghasilkan output yang baik. Update bagian human dilakukan dengan tidak mengganti sumber daya lama dan tidak membeli sumber daya baru tetapi mengembangkan sumber daya lama dengan menantang mereka yang mau berkembang untuk belajar terus menerus, memahami filosofi pekerjaannya dan menjadi problem solved yang tangguh. Sedangkan sebagai timbal balik atas kemauan mereka mengabdi, Bakrie Group harus mengcover mereka dengan kesejahteraan lahir & batin sebagai pendekatan sosial. Tidak hanya dengan pekerja tetapi dengan mitra usaha dan dengan investor sebagai keluarga besar Bakrie Group. Dengan adanya langkah ini sisi ekonomi dan sosial Bakrie Group telah terbentuk bersama secara otomatis yang kemudian memunculkan citra Bakrie Group sebagai grup usaha menguntungkan yang terserang isu namun tidak perlu mengalihkan isu tetapi mematahkan isu dengan moral internal yang telah terbentuk antar keluarga Bakrie Group.

Langkah strategis utama tersebut harus disokong dengan langkah konkret lain mengingat Bakrie Group merupakan usaha besar yang tentu akan sangat rentan dengan isu nasional maupun internasional baik dalam bidang ekonomi, sosial maupun politik.

Economic spreading Indonesia yang cukup baik karena semakin berkembang harus dapat dimanfaatkan Bakrie Group untuk menyisir wilayah Indonesia lebih luas lagi dengan memanfaatkan sumber daya modal capital & networking yang dimiliki Bakrie Group. Wilayah Sulawesi dapat menjadi peluang dengan lebih dimaksimalkan melalui ekspansi bisnis kesana secara lebih luas bahkan dengan mencanangkan Indonesia timur sebagai “the focus market” bagi Bakrie Group mengingat perekonomian Indonesia timur semakin berkembang pesat namun persaingannya masih relatif rendah. Selain itu pemerintah juga telah mencanangkan salah satu ibukota provinsi di Sulawesi yaitu Makassar sebagai hub atau daerah penghubung. Langkah ini juga dapat bersifat antisipatif mengurangi persaingan usaha di Indonesia barat yang semakin menggila.

Ketika berada di pasar Indonesia timur Bakrie Group harus membuat terobosan untuk dapat menjadi market trendsetter di wilayah. Dengan menjadi market trendsetters tentu akan sangat menguntungkan bagi Bakrie Group karena itu dapat menaikkan loyalitas grup usaha Bakrie secara lokal, nasional maupun internasional.

Dengan segala kapabilitas & keunggulan yang dimiliki Bakrie Group ancaman bagi grup usaha ini dapat bersumber dari internal grup yaitu masalah manajemen oleh human. Oleh karenanya semua sektor human dari Bakrie Group harus dipersiapkan dengan baik melalui solusi cerdas pencanangan program “Bekerja sebagai organisasi belajar yang kritis & mencerdaskan” sehingga human dalam Bakrie Group mempunyai sikap care terhadap problem & solved atas problemnya dalam menjalankan daily business agar manajemen tidak menjadi senjata makan tuan bagi perusahaan.

Ancaman eksternal adalah berasal dari pesaing luar negeri yang sudah menglobal. Mereka bagaikan racun yang dapat membuat pasar collapse dengan “plus-plus” yang perusahaan mereka punyai. Plus pertama, mereka masuk dengan produk import yang dimata konsumen lokal dapat menjadi proudly saat konsumen memilih produk mereka, ini dapat menjadi added value bagi mereka. Plus kedua, mereka juga disokong capital, networking, market share, brand awareness yang baik & luas sehingga bagi mereka memasuki pasar baru adalah sesuatu yang tidaklah sulit, tinggal membangun alur distribusi & program promosi karena mereka telah dilengkapi manajemen yang baik & teruji tangguh dari segi usia maupun placement. Melihat pemain yang kelak menjadi pesaing berat ini Bakrie Group harus ambil ancang-ancang strategi yang cerdas, misalnya dengan mengkampanyekan “bangga dengan produk karya anak negeri dalam negeri sendiri” dan menciptakan added value lain dari produk yang dihasilkan sehingga dapat menjadi character Bakrie Group.

Pada intinya sebagai CEO harus mampu menjadikan seluruh aset perusahaan dapat aktif, merasa memiliki amanat dalam bekerja & menjadikan perusahaan sebagai sarana belajar yang dapat memenuhi kebutuhan kehidupan.

CEO juga harus memahami seluruh alur perusahaan dengan bekerja secara langsung di lapangan untuk menemukan problem kecil perusahaan lalu memutuskan langkah penanganan yang cerdas dan bijak dengan pertimbangan yang cermat, mengimplementasikannya dengan fokus & cepat dan melakukan refleksi atas apa yang telah diambil serta tidak lupa melakukan peningkatan prestasi secara kontinyu tentu dengan melibatkan seluruh elemen Bakrie Group.

CEO Bakrie Group Berdaya Bersama🙂

About N. Aini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: